CAPRES DAN PROPAGANDA POLITIK

Authors

  • Aswir Djamadin Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas

DOI:

https://doi.org/10.32509/wacana.v2i8.228

Abstract

Carut marut politik Indonesia Pasca Orde baru memasuki babak baru, dengan tampilnya sejumlah calon presiden yang berasal dari (mantan) kalangan militer; yakni Wiranto (mantan Panglima TN/) dan Susilo Bambang Yudhoyono. Keduanya menyeruak di tengah bursa calon Presiden dari kalangan sipil: megawati, Amien Rais dan Gus Dur. Wiranto yang secara fenomeal-mengalahkan Akbar Tandjung dalam konvensi partai Golkar baru-baru ini segera mengatur strategi melakukan manuver baru mengamankan paket Capres/wapres. Salah satunya adalah dengan mendekati Abdurrahman Wahid agar tokoh 'berpengaruh' itu mau merestui pasangan Wiranto-Hasyim Muzadi sebagai Capres-Wapres. Hasyim Muzadi yang ketua PB NU-ini memang tengah 'naik daun' menerima pinangan sejumlah capres agar mau menjadi wakilnya dalam pemilu Presiden 5 Juli 2004. Sayangnya, tawaran Golkar itu ditolak mentah-mentah Gus Dur (Republika,30/4) yang mengatakan dirinya takkan merestui pasangan WirantoHasyim Muzadi sebagai Capres-wapres, begitu juga pasangan Wiranto denqan kader atau tokoh-tokoh NU atau PKB lainnya.

References

Komunikasi Propaganda, Nurudin, Rosdakarya Bandung, 2001

Koran Tempo, edisi Jumat 23 April 2004

Republika, edisi 30 April 2004

Komunikasi Propaganda karya Nurudin,2001 hal.9

Published

2004-12-31

Issue

Section

Articles